Showing posts with label FOTOGRAFI. Show all posts
Showing posts with label FOTOGRAFI. Show all posts

Yousuf Karsh Salah satu Master Fotografi

Add Comment

Photo Doc. Wikipedia
Seorang fotografer yang berasal dari Armenia-Kanada, kelahiran Mardin, kekaisaran Ottoman (Turki) pada 23 Desember 1908 dengan nama Asli HOVSEP KARSH, Tokoh ini terkenal dengan Portrait Photo dimana yang dipotret adalah orang-orang terkenal. Dan Yuosuf Kars salah satu Tokoh fotografi Portraitur.

Awal karirnya dimulai saat migrasi dari Armenia ke  Ottawa, dan pada tahun 1928 Yousuf KarsH magang di Boston, pada tahun 1941 dia menciptakan foto dari Winston Churchill yang menjadi ikonik dimana mampu merkam ekspresi wajah dengan natural dan. Dan hasil jepretannya adalah Orang-orang yang sangat berperan dibidang politk atau pemimpin. Dan beberapa hasil fotonya dimuat dimajalah terkenal pada saat itu. Hasil photo kars yang memiliki ciri khas pencahayaan yang dramatis.


Pada saat usia 83 tahun tepatnya 1992 dia memutuskan untuk menutup studionya dan pension, Yousuf karsh meninggal pada 13 Juni 2002, pada saat dia meninggal karyanya dipamerkan secara permanen di Metropolitan Museum of Art, Museum Seni Modern, Galeri seni Kanada, Galeri Portret Nasional London, Museum Nasional di Tokyo-Jepang, Institut Seni Chicago, Museum Seni Saint Louis, Museum George Eastman.

Yousuf karsh diakui menjadi salah seorang fotografer terkemuka Kanada, dan menjadi tokoh Portraitur tekenal di abad ke 20, dan pada tahun 2017 sebuah monument yang diberikan Armenia untuk penghargaan diresmikan di Ottawa.

Photo Doc. Wikipedia









Memahami dan tips memotret Arsitektur

Add Comment

Photo Doc. bloglovin.com
Fotografi Arsitektur salah satu genre fotografi yang digemari saat ini, pada umumnya pikiran kita tentang Arsitektur  adalah merekam Dokumen bangunan, tentu ini bukan asumsi yang salah tetapi kita harus lebih jauh mengetahui bahwa Fotografi arsitektur  adalah genre foto yang mengutarakan Estetika dalam arsitektural, mulai dari Seni, ekspresi, komunikasi,etika,imaginasi, realita, harmoni.

Dalam memotret Arsitektur juga tidak hanya berbicara keindahan dan kemegahan bangunan,  tentu juga kaidah fotografi itu sendiri, seperti pencahayaan, komposisi dan juga dimensi dimana pengolahan element visual mulai dari titik,garis,bentuk,wujud sehingga mampu memberi keindahan terhadap visual tesebut.

Sebelum kita melakukan pemotretan Arsitektur tentu kita harus melakukan pencarian data dari bangunan tersebut, supaya tujuan penciptaan kita dapat terwujud dengan maksud kita, hal ini biasanya membutuhkan pengetahuan atau wawasan tentang bangunan tersebut seperti sejarah bangunan, baik itu proses pengerjaannya, pemakaiannya, sampai ke fungsinya. Dengan cara demikian kita lebih mudah untuk menampilkan visual sesuai tujuan kita.

Memotret arsitektur dapat kita bagi menjadi dua bagian yaitu :

Fotografi Interior :  disini kita akan merekam bagian-bagian dalam bangunan hal ini kita harus lebih jeli untuk menampilkan Detail dari setiap bagian dan juga property didalam kemudian tata ruangnya. Saat pemotretan disini tidak lepas dari pencahayaan, pemotretan seperti ini dapat dilakukan dengan pencahayaan Artivisial dan juga menggabungkan dengan cahaya ambient, sebab juga aka nada beberapa jendela dan lampu interiornya.

beberapa langkah dan tisp yang penting diperhatikan saat memotret :
  • Memotret secara persegi yang memperhatikan titik vertikal dan horizontal (perspektif garis)
  • Memotret dari atas ke bawah untuk memberikan kedalaman gambar
  • Pencahayaan merupakan konten utama dalam menentukan hasil yang bagus. Terdiri dari cahaya ambient dan fitur paparan 
  • Kontras yang tinggi pada kecerahan sinar yang menyorot pada jendela
  • Warna yang dihasilkan dari campuran cahaya alami dan cahaya buatan
  • Bingkai pada arsitektur dapat membingkai pandangan eksternal dari dalam bangunan
  • Cari sesuatu yang tidak terduga dalam memotret interior bangunan
  • Kedalaman ruang merupakan memfokuskan pada bagian tertentu dari sebuah gambar untuk menciptakan suasana.,Carilah ruang ke ruang untuk kesan misterius dapat berupa pencahayaan dalam ruangan.
  • Reflektif dapat membuat interior hidup 
  • Memotret interior dengan lurus ke atas
  •  Memotret secara alami bangunan dari cahaya alami pada waktu yang berbeda dalam sehari

Fotografi Eksterior : pemotretan ini berusaha untuk menampilkan tampilan luar bangunan secara  detail, sehingga mampu menggambarkan kemegahan dan seni keindahan bangunan tersebut.

Beberapa hal yang penting diperhatikan saat memotret adalah :
  •  Memperhatikan titik vertical dan horizontal di viewfinder (Gunakan Tripod)
  • Pencahayaan yang tepat, (untuk menghindari Bias cahaya yang berlebihan Gunakan Filter)
  • Pemilihan Lensa dan focalenght sudut luas (saat memotret gunakan Dof luas).
  • Waktu Pemotretan harus pertimbangkan arah sinar pagi/sore atau siang sebab  dampaknya terhadap bayangan akan mempengaruhi hasil foto kita.(sesuaikan kebutuhan kita)

Photo Doc. iphonephotographyschool.com
Dengan tips diatas anda tinggal meluruskan tujuan pemotretan anda sesaui dengan kosep yang anda inginkan dan tentunya juga komposisi yang anda inginkan dan terkadang kebanyakan fotografer membuat visual mereka dengan penerapan komposisi yang menggunakan konsep framing, refleksi bangunan, berusaha menciptakan dimensi-dimensi yang memberikan kesan bayangan dan lain-lain. Namun tanpa keluar dari konsep arsitektur yaitu merekam Keindahan bangunan secara Detail.

Memahami Eksposur Fotografi

Add Comment
Eksposur dalam dunia fotografi adalah hal yang utama dimana saat memotret kita membutuhkan cahaya, eksposur itu  sendiri  dalam fotogarfi dapat didefenisikan jumlah cahaya yang mengenai klise atau roll film dan untuk kamera digital mengenai sensor kamera. Untuk menentukan kualitas foto yang baik harus mendapatkan cahaya yang seimbang, sebab semakin banyak cahaya mengenai film atau sensor maka hasil gambar akan semakin terang, dan juga sebaliknya. Namun penting diingat bahwa cahaya yang berlebihan akan mengakibatkan hasil foto Over Exposed, juga bila cahaya yang diterima sensor kurang maka gambar akan menjadi gelap atau disebut dengan under exposed.

Foto Doc : kelasfotografi.wordpress.com
Untuk mendapat cahaya yang seimbang saat memotret ada 3 faktor atau yang paling vital diperhatikan yaitu ISO,Shutter speed,  Appeture/Diafragma perhatikan penjelasan dibawah :

ASA/ISO Ukuran besarnya Sensitivitas Roll Film/klise atau sensor kamera terhadap cahaya.Sensitifitas sensor atau film dinyatakan dengan angka dan biasanya kelipatan dua untuk satu Stop atau step. ISO 100-200-400-800-1600-3200-6400. 
ISO 100 nilai terendah (ISO default) pada nilai ini sensor berada pada nilai terendah , untuk membuat sensor lebih sensitive terhadap cahaya nilai ISO dapat dinaikkan ke nilai yang paling tinggi. Saat ISO dinaikkan maka sinyal tegangan output sensor kamera menjadi lebih peka terhadap cahaya. Yang penting dicatat adalah bila ISO dinaikkan satu step atau 1Stop maka sensitivitas sensor kamera akan bertambah dua kali lipat. Misalnya jika kita memotret dengan ISO 100 dan kecepatan S 1/ 500 kemudian dengan bukaan lensa F 5.6 dan akan mengubah kecepatan ranah kamera ke 1/1000 maka ISO dapat kita ubah ke 200 dengan kondisi bukaan lensa yang sama. catatan kedua bila iso semakin tinggi maka konsekwensi adanya Noise untuk kamera DSLR namun jika analog akan ada pada Film.

Shutter  : Shutter adalah jendela atau tirai pada kamera sebelum cahaya mengenai film atau sensor kamera atau berapa lama cahaya mengenai film atau sensor kamera, dan untuk batasan waktu cahaya tesebut mengenai sensor akan disebut Shutter Speed,  kecepatan Shuttes speed berfariasi mulai dari yang rendah samapi yang paling tinggi, Catatan yang pertama di ingat adalah semakin cepat Shutter maka cahaya semakin minim atau sedikit yang mengenai sensor, dan juga sebaliknya semakin lambat shutter speed maka cahaya semakin banyak, Biasanya nilai shutte speed yang tersedia adlah 1/sekian detik dan dapat kita lihat contoh deretan angka dibawah :

1 – 1/2 – 1/4  – 1/8 – 1/15 – 1/30 – 1/60 – 1/125 – 1/250 – 1/500 – 1/1000 dst

Dari deretan angka diatas dapat kita lihat kalau kelipatan nilai ini merupakan kelipatan dua. Jadi 1/30 detik adalah dua kali lebih lambat dibanding 1/60 detik, sehingga kalau nilai shutter di kamera dirubah dari 1/60 detik ke 1/30 detik artinya jumlah cahaya yang masuk ke kamera ditambah dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Demikian juga 1/500 detik itu dua kali lebih cepat dari 1/250 detik, sehingga kalau nilai shutter dirubah dari 1/250 detik menjadi 1/500 detik itu artinya jumlah cahaya yang masuk dikurangi setengah dari sebelumnya.

Selain berguna untuk mengatur terang gelapnya sebuah foto, berkreasi dengan kecepatan shutter selanjutnya bisa menghasilkan foto high-speed dan foto slow-speed yang keduanya punya keunikan dan nilai seni tersendiri. Hanya saja memakai kecepatan shutter yang terlalu lambat diperlukan tripod untuk mencegah foto blur/sheeking karena getaran tangan saat memotret. penting di ingat juga biasanya ada Tulisan BLUB sebelum angka shutter speed, Bulb tidak memiliki kecepatan namun setelah memotret akan menghasilkan angka shutter di data teknis foto, angka tersebut diukur oleh keinginan dari si fotografer dimana rana kamera tidak akan menutup selama jari anda tidak melepas tombol shutter speed. 
Aperture : adalah bagian katup di dalam lensa berupa lubang yang bisa membesar dan mengecil (biasa disebut bukaan lensa atau diafragma), dimana semakin besar bukaannya maka makin banyak cahaya yang bisa masuk, sebaliknya semakin kecil bukaannya maka cahaya yang bisa masuk semakin sedikit. Besar kecilnya bukaan diafragma ini dinyatakan dalam f-number, dimana f-number kecil menyatakan bukaaan besar dan f-number yang besar menyatakan bukaan kecil. F-number standar untuk lensa modern adalah seperti berikut ini (urut dari bukaan terbesar hingga terkecil) :

f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11 – f/16 – f/22
Konsep pengaturan cahaya dengan mengubah bukaan lensa memang sedikit lebih rumit untuk dipahami. Pertama yang perlu diingat, deret diatas merupakan kelipatan satu stop atau satu Exposure Value (EV). Bila kita menaikkan bukaan lensa sebesar satu stop (misal dari f/11 ke f/8) artinya kita menambah jumlah cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat, sementara bila kita mengecilkan bukaan lensa sebesar satu stop (misal dari f/2.8 ke f/4) artinya kita mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera sebanyak setengahnya.
Kedua, untuk pengaturan yang lebih presisi, diafragma pada lensa modern mampu diatur dalam step yang lebih kecil, umumnya adalah kelipatan 1/2 dan 1/3 stop. Sebagai contoh, diantara f/2.8 hingga f/8 ada beberapa f-number dengan kelipatan 1/3 stop (ditandai dengan warna biru) yaitu :

f/2.8 – f/3.2 – f/3.5 – f/4 – f/4.5 – f/5 – f/5.6 – f/6.3 – f/7.1 – f/8
Dari deret diatas, tampak kalau ternyata diantara f/2.8 dan f/4 masih tersedia dua f-number  lain yang mewakili 1/3 EV yaitu f/3.2 dan f/3.5. Dengan demikian kita punya keleluasaan dalam mengendalikan bukaan dengan lebih halus dan lebih presisi.
Selain sebagai kendali terang gelapnya sebuah foto, berkreasi dengan bermacam variasi bukaan lensa juga menentukan kedalaman foto atau depth-of-field. Foto yang diambil memakai bukaan besar akan memberikan latar belakang yang blur (out of focus), sementara bukaan kecil akan memberikan latar belakang yang tajam.
Dengan menyeimbangkan ketiga element diatas disebut dengan EKSPOSUR, beberapa orang membuat perumpamaan supaya cepat dipahami  sperti gambar dibawah :

Photo Doc.kelasfotografi.wordpress.com
Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami exposure adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini kita umpamakan segitiga exposure seperti halnya sebuah keran air.
  • Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran
  • Aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran
  • ISO adalah kuatnya dorongan air 
  • Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera
Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya. sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen penyusunnya. Jika kamu mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air terbuka. Mengubah Aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya. 
Sumber dari :kelasfotografi.wordpress.com

Perbedaan APS-C dan Full Frame pada sensor Kamera

Add Comment
Nah kali ini kita akan membahas mengenai format kamera atau mungkin sudah sering mendengarkan APS-C dan juga Full-Frame atau untuk istilah format ini mungkin pernah mendengar “Crop factor”, sebelum di era digital sekarang ini fotogfrafi masih menggunakan film ukuran 35mm untuk kamera SLR atau (Single Lensa Reflex) tetapi pada saat ini untuk menciptakan sensor kamera dengan ukuran itu tidaklah mudah, disamping  biaya yang lebih mahal, kemudian untuk kebutuhan konsumen perusahaan mulailah memproduksi kamera dengan sensor yang lebih kecil.

Sebenarnya untuk memahami crop factor ini lebih mudah dimengerti dengan berbicara besarnya penampang bias cahaya katakanlah Roll Film untuk kamera SLR  atau Sensor kamera DSLR, perhatikan gambar dibawah ini


Dengan kehadiran kamera DSLR yang memiliki format lebih kecil dari 35mm mengalami masalah yaitu seperti yang terlihat pada gambar diatas apa yang terlihat menurut bidang pandang kita dengan bidang pandang kamera (field of view) adalah terlihat berbeda atau lebih sempit menurut bidang pandang kamera. Hal ini dikarenakan sudut-sudut frame gambar telah mengalami "cropped" atau dipotong. Nah sekarang kita dapat asumsikan bahwa perbedaan antara APS-C dengan Full-Frame, bahwa kotak merah diatas hampir menampung visual dari monting kamera dan semenrtara kotak warna hijau semakin mengecil dan juga visual yang akan ditangkap atau direkam akan semakin menyempit seperti hasil gambar disamping.


Pada dasarnya semua ukuran sensor kamera Full-Frame memiliki ukuran fisik yang sama seperti kamera film 35mm yaitu 36x24mm, dam sedangkan untuk ukuran sensor yang kecil memiliki variasi atau tergantung kepada perusahaan yang memproduksinya, dapat kita lihat ilustrasi cropp factor kamera dibawah ini :



Tetapi supaya tidak keliru crop factor berbeda dengan crop sensor, jika Crop sensor adalah cropping yang dialami sensor kamera dan sementara crop factor adalah Rasio untuk ukuran sensor. 



Beberapa hal penting untuk menciptakan fotografi Hitam Putih untuk pemula

Add Comment
Photo doc : www.allpics4u.com


Bnayak orang yang bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan fotografi hitam putih atau biasa kita dengar BLACK & WHITE, Fotografi hitam putih sebenarnya sudah muncul pertama kali setelah munculnya industry klise atau roll film/Seluloit.

Fotografi hitam putih memiliki daya tarik tersendiri dan bukanlah seperti mengamati televise hitam putih atau film bisu, namun lebih ke cita rasa dimana fotografi hitam hitamputih dianggap lebih memberikan kesan Dramatis dan lebih mengarah ke bentuk dan persoalan estetika atau nilai keindahan  seni, bahkan banyak pendapat para pecinta fotografi yang mengatakan bahwa orang-orang yang terbaik yang dapat menampilkan foto hitam putih atau monokrom. Dapat kita lihat master fotografi dunia yang berkarya foto black and white seperti Ansel Adam, Edward Weston, Henri Cartier, Vivian Mayer dan lainnya.

Beberapa hal yang sangat penting untuk menghasilkan foto hitam putih adalah  pemahaman beberapa element seperti  komposisi, Irama kontras/Tone, tekstur, bentuk dan kualitas cahaya nah jauh sebelum melakukan atau memotret elemen diataslah yang sangat penting sekali untuk kita kuasai dan kita harus banyak melatih diri untuk mengamatinya.

Buat  yang mau memulai, sangat disarankan dimulai dari yang paling mudah didapat seperti fotografi landscape, Portrait, dan still life. Sebelum adanya kamera digital sekarang ini atau masih menggunakan kamera analog tentu kita menggunakan film BW, nah saat ini yang penting pertama kita lakukan adalah mengubah Picture Style ke Mono Chrome atau BW. Bila kamera kita dapat live view maka anda akan melihat tampilan LCD anda dengan gambar Hitam Putih hal ini memudahkan kita untuk melihat dan mengamati secara detail, namun untuk fotografer sejati mereka tetap melihat dari viewfinder.

Nah selanjutnya kita dapat bertindak kreatif menggunakan filter warnauntuk mendapatkan tone yang lebih menarik, contoh bila memotret lagit biru dan memberi filter kuning maka langit akan menghasilkan langit sedikit akan gelap dan menggunakan filter orange akan menghasilkan hasil yang lebih gelap dan filter merah akan semakin gelap. Dan ada juga menggunakan filter warna hijau biasanya untuk memotret hutan dan yang penuh dedaunan. Nah keempat filter ini yang biasa untuk digunakan untuk meredam efek warna untuk menjadi foto Hitam Putih, nah itu hanya asumsi dibawah ini dapat kita lihat konversi warna terhadap Black and White/Hitam Putih.

Lebih lengkapnya tabel dibawah dapat kita gunakan untuk konversi warna sesuai dengan keinginan kita, sesuai objek dan kondisi cahaya saat memotret.
dalam artikel ini kita akan melihat beberapa contoh hasil foto  yang menerapkan konversi warna ke hitamputih dengan menggunakan filter:

Filter  : Merah
Photo by : Nicholas

Filter : Orange
Photo by : David Jubert


 Filter : Kuning


Photo by: Alex Gorstan

Filter : Hijau

Photo by : Aussiegal
Filter : Biru
Photo By : Tony Armstrong

Kontras juga adalah hal yang paling penting dalam foto hitam putih, salah satunya jika kita memotret dalam kondisi cahaya yang rata katakanlah memotret  orang di tempat teduh,  model atau  objek utama berbanding objek kedua terkadang bias rata dan butuh kontras yang lebih untuk objek utama atau model. Namun terkadang banyak juga yang melakukan terbalik dimana artistic untuk setipa fotografer berbeda.

Menggunakan komposisi yang benar layaknya juga dengan golden size yang biasa dimiliki para pelukis, nah begitu juga dengan fotografer, akan menerapkan komposisi dimana  kita tata akan menata dalam frame foto mulai dari Garis, Bentuk, Pola, tekstur, ruang dan arah sinar.

Kemudian yang terakhir adalah mengenai TONALatau lebih kita kenal dengan irama dari cahaya terhadap permukaan objek baik maupun lebih dari satu objek, sehingga akan tercipta dimensi juga jarak antara objek yang satu dengan objek yang lain.

Bagian-bagian Kamera/Anatomi Kamera DSLR

Add Comment
Memahami badan atau body kamer sangat penting untuk dibahas, dimana terkadang orang terbiasa memakai kamera Canon dan ketika memakai kamera Nikon kebingungan, hal ini disebabkan karena tidak terbiasa, namun pada dasarnya sama, nah untuk memahaminya kita harus mengerti tombol dan fitur kamera, walaupun beberapa istilah atau beberapa fitur ditulis dengan berbeda tetapi pada dasarnya fungsinya sama.

dengan memahami fitur kamera kitadapat bekerja maksimal dengan kamera, maka sudah seharusnya kita mengetahui kegunaan dari semua bagian-bagian penting pada kamera Anda. disamping itu, cara ini juga akan membantu Anda untuk lebih mudah mengikuti instruksi penggunaan kamera.

Sebagai contoh di sini Kita akan menampilkan gambar kamera canon EOS 600D. Bila kamera Anda dari merk lain, jangan khawatir. Semua kamera memiliki fitur dan bagian-bagian yang mirip hanya berbeda tempat dan nama saja sedangkan fungsinya tetaplah sama. Berikut bagian-bagian pada kamera beserta fungsinya:


Keterangan:


1. Lensa merupakan bagian pokok dari kamera yang bekerja sama dengan body kamera. Untuk fungsinya saya pikir tidak perlu saya jelaskan lagi secara panjang lebar di sini.(Jenis dan cara  sistem kerja Lensa)

2. Tombol Stabilizer (IS, VR, VC) yang berfungsi untuk menstabilkan getaran oleh tangan (hand shake) saat memotret yang berpotensi membuat hasil foto menjadi motion blur. Prinsip kerja fitur ini adalah dengan mengandalkan sebuah gyrosensor yang mendeteksi getaran pada kamera dan melakukan kompensasi secara mekanik untuk meredam getaran itu. Namun tidak semua lensa memiliki fitur ini.

3. Tombol Pembuka Lensa yang fungsinya tidak lain untuk membantu melepaskan lensa dari body. Cara penggunannya yaitu tombol ditekan sambil lensa dilepas dengan cara diputar ke kiri.

4. Tombol Fokus yang terdiri dari dua mode yaitu Auto Focus (AF) dan Manual Focus (MF). Bila Anda menggunakan mode auto maka berarti kerja fokus digerakkan oleh mesin secara auto. Namun bila memilih mode manual maka kerja fokus Anda yang gerakkan secara manual.

5. Tombol Pembuka Flash yang digunakan untuk membuka lampu flash pada kamera. Tombol ini hanya berfungsi bila kamera dalam keadaan menyala / standby.

6. Built-in Flash Light adalah lampu Blitz atau flash diterjemahkan secara bebas menjadi lampu kilat. Fungsi utamanya yaitu untuk membantu pencayaan pada kondisi gelap dengan cara meng-illuminate (mencahayai / menerangi) obyek yang kekurangan cahaya agar terekspos dengan baik.

7. Tombol Shutter adalah tombol yang Anda tekan untuk mengambil gambar.

8. Grip salah satu bagian menonjol di bagian kanan anatomi kamera yang fungsinya sebagai pegangan pada kamera. Grip didesain dengan tekstur kasar agar Anda bisa memegang kamera dengan kuat tanpa terpleset ketika memotret. Kesalahan memegang grip merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya hand shake.

9. Anti Red Eye yang berfungsi sebagai penangkal untuk menghindari mata yang terlihat merah (red eye) pada hasil foto yang merupakan efek dari lampu flash. Masalah ini sering terjadi namun bisa diatasi.

10. Tombol Preview yang gunanya untuk melihat hasil foto Anda pada layar LCD kamera.

11. Tombol Delete yang berfungsi untuk menghapus foto dan data lainnya di dalam kamera.

12. Tombol Navigasi berfungsi untuk membantu Anda mengendalikan program dalam kamera termasuk menggeser pilihan pada menu di kamera. Tidak semua kamera memiliki bentuk tombol navigasi yang sama, ada berupa scroll, analog, dan tombol 4 arah. Pada Canon EOS 600D atau sekelasnya, tombol ini memiliki multi fungsi atau dua peran yaitu sebagai tombol navigasi untuk menggeser pilihan (kiri, kanan, atas, bawah) dan juga sebagai tombol shortcut untuk mengatur white balance (WB), jenis focus, picture style, dan drive mode.


13. Tombol Fn/Q yang berfungsi untuk merubah / mengalihkan fungsi pada tombol navigasi di atas ke fungsi shortcut.  


14. Tombol AV mempunyai fungsi untuk mengatur bukaan diafragma atau aperture. (Baca sistem kerja kamera)

15. Tombol Zoom yang berfungsi untuk memperbesar hasil foto dan juga untuk memperdekat jarak objek ketika Anda mengaktifkan mode livefiew saat memotret.

16. Mode-Dial adalah menu untuk memilih dan mengganti mode eksposure / modus pemotretan. Di sini Anda bisa menemukan beberapa mode auto instan yang telah disiapkan khusus seperti untuk memotret olahraga, kembang api, malam hari, closeup, dan juga mode manual (M).

17. Tombol Lifeview yang berfungsi untuk mengganti / mengalihkan layar bidik dari viewfinder ke lifeview yang tampil pada layar LCD. Pada EOS 600D tombol ini juga berfungsi untuk merekam video.

18. Viewfinder adalah jendela bidik yang Anda gunakan untuk melihat objek saat memotret. Pada viewfider ini Anda bisa melihat titik fokus dan informasi lainnya seperti light meter, nilai shutter speed, apperture, ISO, dan metering. Pada bagian viewfinder terdapat karet seperti bantalan yang disebut eye pieces, fungsinya untuk menahan cahaya yang masuk ke viewfinder agar objek terlihat benar-benar real.

19. Tombol Menu untuk menuju menu pengaturan utama kamera, sedangkan Tombol Info untuk mengetahui informasi data termasuk informasi foto-foto Anda.

20. Layar LCD memiliki multi fungsi yaitu yang pertama untuk menampilkan keterangan settingan pada kamera (mode eksposure, shutter speed, aperture, ISO, dll), kemudian untuk melihat hasil foto Anda, dan terakhir sebagai layar bidik besar untuk melihat objek yang akan difoto secara live, yang disebut lifeview.

21. Tombol ISO merupakan tombol shortcut (jalan pintas) untuk mengatur ISO. 

22. Main-Dial yang juga berfungsi sebagai navigasi untuk menggeser pilihan pada menu tertentu


23. Tombol Display fungsinya untuk mengaktifkan mode standby dan untuk menghidupkan kembali dari mode standby. Ketika dalam mode standby kamera masih tetaap dalam keadaan menyala, hanya saja sedang diistirahtkan dan bukan dalam keadaan off. 


24. Tombol ON/OFF adalah tombol yang berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan kamera.

Sistem Kerja Lensa Kamera Dan Jenis Lensa Kamera

1 Comment

Lensa merupakan investasi dalam dunia fotografi  untuk memperkaya style visual yang akan kita hasilkan. Sangat penting untuk memahami  lensa dikarenakan lensa bagian yang sangat vital dalam memotret, ada banyak tawaran dan jenis kamera mulai dari harga murah hingga harga yang lumayan mahal. Beberapa pertanyaan selalu muncul kenapa lensa kamera  mahal tentu dikarenakan bahan atau material, motor lensa, jangkauan dan tawaran lainnya. Nah untuk itu mari kita simak cara kerja lensa dan material yang digunakan dalam lensa kamera tersebut.

Saat memotret Optik sebuah kamera adalah lensa, Lensa tersebut adalah susunan kaca cembung dan berfungsi sebagai penangkap berkas cahaya sehingga dapat dipantulkan  atau direfleksikan dengan real atau gambar sama persis dengan objek yag ada didepan lensa.
Nah untuk proses kerjanya mari kita simak :


Saat cahaya masuk bergerak dari sebuah medium ke medium lain maka kecepatan cahaya akan berubah. Dengan istilahnya cahaya akan lebih cepat bergerak di ruang terbuka berbanding harus melalui kaca atau lensa, atau dengan kata lain cahaya akan lebih lambat jika harus melalui lensa. Dan ketika cahaya akan sampai kelensa dengan sudut tertentu maka lintasan akan membelok kearah tertentu. Pada sebuah lensa konvergen atau lensa cembung, salah satu atau kedua sisi kaca lensa dibuat lebih tipis dibandingkan bagian tengahnya. Hal ini berarti cahaya yang bergerak melewati bagian ini akan membelok ke arah pusat lensa. Pada sebuah lensa cembung rangkap, seperti lensa yang digunakan untuk kaca pembesar, cahaya akan melengkung baik pada saat memasuki lensa maupun pada saat meninggalkan lensa.


Struktur Lensa Kamera
Lensa kamera memiliki beberapa struktur, tergantung jenis dan mereknya. Tetapi yang jelas ada beberapa struktur penting yang terdapat di setiap lensa, seperti pada gambar berikut ini :


Struktur Lensa Kamera Manual
1.       Body Lensa, merupakan bentuk atau badan lensa
2.       Kaca Lensa, Bagian Inti dari lensa kamera
3.       Cincin Fokus, untuk menentukan fokus pada lensa
4.       Cincin Focal length, untuk menentukan jarak focal length
5.       Cincin diafragma, untuk menentukan nilai diafragma
6.       Rear Cap, tutup belakang lensa kamera

Struktur Lensa Kamera Digital
1.       Body Lensa, merupakan bentuk atau badan lensa
2.       Front Cap, tutup depan lensa kamera
3.       Cincin Fokus, untuk menentukan fokus pada mode manual
4.       Cincin Focal length, untuk menentukan jarak focal length
5.       Tombol Auto Fokus, untuk mengganti mode auto fokus atau manual fokus
6.       Tombol Image Stabilizer, untuk menghidupkan fitur Image Stabilizer
7.       Rear Cap, tutup belakang lensa kamera

Jenis lensa yang sering dijumpai ada 2 macam.
Lensa zoom merupakan lensa yang bisa di zoom, atau lensa yang memiliki rentang focal length, misal lensa Canon EFS 18-mm IS, itu merupakan lensa zoom.
Lensa fix kamera merupakan lensa yang sudah ditetapkan focal length nya, tidak bisa di zoom, jadi yang maju mundur adalah fotografernya. Lensa fix cenderung lebih tajam hasilnya dibandingkan dari lensa zoom. (kelas yang sama). Contoh dari lensa fix adalah lensa Canon 50mm f1.8.
Lensa Macro Lensa ini dirancang khusus untuk yang hobi memotret objek dari jarak dekat. Biasanya, foto yang diambil pun berasal dari objek berukuran kecil, seperti serangga, tanaman, atau tetesan air dan lainnya.
Jenis-jenis Lensa Kamera
Jenis Lensa Kamera Menurut Teknologinya
Jenis Lensa Kamera Menurut Fungsi dan Focal Length nya
Jenis lensa kamera ada bermacam-macam, bisa tergantug pada bentuk, model, fungsi dan mereknya masing-masing. Berikut ini jenis-jenis lensa kamera yang umum ditemui  :

1. Lensa Kamera Manual

Lensa manual kamera digunakan untuk kamera manual juga (SLR). Pengoperasian lensa ini serba manual, dari mulai menentukan titik fokusnya, sampai menentukan diafragmanya. Kebanyakan ciri fisik dari lensa manual bisa dilihat dari body nya yang terbuat dari besi dan yang jelas tidak ada tombol atau swit pengganti auto fokusnya.
Pada era sekarang, lensa manual juga bisa digunakan pada kamera digital, tetapi harus memodifikasi mount lensa manual tersebut agar dapat terpasang pada kamera digital. Keunggulan lensa manual ini adalah body nya yang kuat, serta jika menemukan titik fokus yang pas maka hasil nya akan sangat tajam.
2. Lensa Kamera Digital

Lensa kamera digital digunakan untuk kamera digital atau kamera DSLR ( Digital Single Lens Reflect ). Pengoperasian lensa digital ini bisa manual ataupun otomasis, karena terdapat tombol auto focusnya. Tetapi jika menggunakan pada mode auto focus, jangan sekali-kali memutar cincin autofokus nya, karena akan merusak lensa digital tersebut.
Ciri dari lensa kamera digital biasanya terbuat dari bahan sejenis plastik, mempunyai fitur autofokus dan yang pasti digunakan di kamera digital. Keunggulan pada lensa ini tentu pada fitur autofocusnya di bandingkan dengan lensa manual.
Berikut ini adalah jenis-jenis lensa menurut fungsinya dan focal length nya
bisa dijadikan referensi jika Kita ingin membeli lensa baru. sehingga kita dapat memilih sesuai dengan keinginan kita.
1. Lensa Kamera Standar / Normal

Lensa kamera standar atau yang umum dijumpai atau banyak dipasrkan adalah lensa yang memilik focal length antara 35mm – 70mm. tetapi lensa yang standart dengan ukuran mata manusia adalah lensa yang memiliki focal length 50mm ( seperti lensa Fix canon 50mm f1.8). Lensa standar atau normal biasanya digunakan untuk dokumentasi dan street fotografi, dimana seorang fotografer dituntun untuk bergerak cepat dan mengambil foto yang menarik. Keuntungan dari lensa kamera ini adalah tidak terlalu besar dan mudah dibawa kemana-mana.
2. Lensa Kamera Medium Telephoto

Lensa kamera medium Telephoto memilik focal length antara 80mm – 135mm. Jangkauan fokus antara 80-135mm hampir selalu digunakan oleh fotografer untuk memotret portrait atau model. karena pada focal lengt tersebut memungkinkan minim terjadi distorsi.
Lensa kamera fix pada jenis lensa kamera medium telephoto ini adalah kamera yang ideal untuk memotret portrait atau model. Karena seperti yang dikatakan tadi tidak akan terjadi distorsi. Lensa Canon EF 100mm f/2.8 Macro USM adalah contoh dari salah satu jenis lensa kamera medium telephoto.
3. Lensa Kamera Telephoto

Lensa kamera Telephoto memilik focal length antara 135mm dan 300mm. Ciri lensa ini panjang, lensa ini memiliki jangkauan yang lumayan jauh. Sehingga fungsi di buatnya kamera ini adalah untuk fotografi olah raga ataupun fotografi satwa liar.
Kenapa lensa telephoto digunakan untuk fotografi olah raga atau fotografi satwa liar? karena tidak mungkin jika kita seorang fotografer olahraga ingin menggambil sebuak olah raga motogp misal dan kita memotret harus mendekat sampai kelintasan ? atau pun jika kita di hutan ingin memotret singa dan kita harus mendekat ke singa tersebut ? Salah satu contoh dari lensa telephoto adalah Lensa Canon EF 200mm IS USM f/2L.
4. Lensa Kamera Super Telephoto

Lensa kamera Super Telephoto memilik focal length lebih dari 300mm. Ciri lensa ini panjang, dan sering dibutuhkan tripod lensa untuk menopang bagian depan lensa yang terlalu panjang. Dan yang perlu diingat, harga dari lensa super telephoto ini juga lumayan mahal.
Fungsi dari Lensa Kamera Super Telephoto sama dengan lengsa kamera telephoto, yaitu untuk fotografi olahraga dan fotografi satwa liar. Lensa kamera super telephoto digunakan jika seorang fotograer menginginkan lensa yang lebih dari telephoto. Salah satu contoh dari lensa super telephoto adalah Lensa AF-S NIKKOR 300mm f/2.8G ED VR II .
5. Lensa Kamera Wide Angle

Lensa kamera Wide Angel memilik focal length dibawah 20mm. Seperti namanya, Lensa kamera wide angle ini memiliki daya tangkap yang lebar. Lensa ini akan menghasilkan distorsi gambar.
Fungsi dari lensa kamera wide angle adalah untuk memotret pemandangan, memotret arsitektur, terkadang juga digunakan untuk memotret sekumpulan orang banyak. Sering kita mendengar kata Fotografi Landscape, fotografi landscape cocok sekali menggunakan jenis lensa wide angle ini. Salah satu contoh dari lensa wide angle adalah Lensa Canon EF 17-40mm f/1:4USM.
6. Lensa Kamera Fisheye
Lensa Kamera Fisheye merupakan lensa yang spesial. Lensa Kamera Fisheye biasanya memiliki focal length  antara/dibawah 10mm. Lensa fisheye ini akan menghasilkan gambar yang unik, sangat distorsi sampai gambar melingkar yang menghubungkan antara sisi sisi gambar/foto.
Karena lensa fisheye adala lensa kamera yang spesial, Salah satu contoh dari lensa Fisheye adalah Lensa Canon EF 8-15mm f/4L fisheye USM.

7. Lensa Macro
Lensa makro mempunyai fungsi untuk mengambil gambar secara detail, tajam, dan mampu memperbesar foto dari objek yang kecil atau bahkan sangat kecil seperti bunga, tanaman, dan serangga. Lensa macro didesain khusus untuk memotret objek berukuran kecil dan mampu melakukan fokus dalam jarak yang sangat dekat. Mereka dapat melakukan fokus lebih dekat daripada lensa normal lain, mampu mengisi seluruh frame dengan objek dan dengan tetap menonjolkan detail dan warna.contoh dari lensa tersebut Canon 40mm/f/2.8 STM

Buat sahabat POJOK_NYANTAI mudah-mudahan artikel ini bermanfaat terimakasih...